KUDA
Dalam perjalanan ke sekolah pagi ini, saya melihat seorang bapak mengenakan ti’i langga menunggang kuda, sementara beberapa laki-laki melambaikan tangan ke arahnya sembari tertawa.
Saya memperlambat motor dan pelan-pelan mengikutinya, lalu berhenti dan mengambil handphone dari saku jaket. Bapak itu tidak menoleh sama sekali tapi kuda itu tidak lagi berlari; berjalan lambat di atas aspal. Ranting-ranting pohon terjuntai dari sebelah kiri, sementara lahan-lahan sawah yang baru selesai dipanen terbentang di sebelah kanan jalan.
Tak lama kemudian, kuda itu kembali berlari bak anak panah yang terlepas dari busurnya.
Saat saya hendak menyalakan motor, seorang perempuan paruh baya lewat di samping saya. Ia mengenakan kemeja polos berwarna cokelat dan kain panjang yang dililitkan sebagai bawahan.
“Pi pasar ko, Mama?” tanya saya.
"Iya, jawabnya singkat," lalu bersiap-siap untuk naik ke motor.
“Tapi, maaf Mama. Mama bisa toh duduk laki-laki? Saya takut melewati jembatan kayu kalau bonceng Mama duduk perempuan.”
Mama itu pun naik setelah mengangkat kainya sebatas lutut, duduk menghadap ke muka.
Jembatan Kuli merupakan jembatan yang menghubungkan desa Kuli yang berada di wilayah kecamatan Lobalain dan desa Aisele di kecamatan Rote Barat Daya. Lantai jembatannya terbuat dari susunan balok yang tak lagi utuh. Plat baja yang dipakai untuk menutupi balok-balok yang telah lapuk, hilang dan tercabut pun telah terlepas. Rasa was-was masih menyelimuti diri saya bahkan setelah lebih dari setahun melewati jembatan itu hampir setiap hari.
Saya bertemu kembali dengan bapak penunggang kuda itu di atas jembatan. Kuda itu berjalan dengan kepala tertunduk seperti ikut menghitung jumlah balok yang ada di balik seng plat atau mungkin mengurai lelah setelah diajak berlari. Di ujung jembatan, bapak itu berhenti. Tanpa menoleh, tangannya mengayun ke samping, mempersilakan saya lewat.
“Selamat pagi, Bapak. Beta foto sedikit e,” sapa saya.
Ia menjawab dengan sebuah senyuman.
Gambaran seorang bapak di atas kuda, menggunakan tiilangga di bawah dua buah pohon kelapa berpindah ke dalam layar hape saya. Ketika menurunkan mama yang saya boncengi di pasar, bapak itu lewat. Ia menoleh ke arah saya dan memberikan senyum semringah yang lagi-lagi saya abadikan dalam hape saya.
Selama ribuan tahun, kuda membantu manusia berpindah tempat. Sebelum mesin ditemukan, sebelum jalan raya dipenuhi kendaraan, manusia pernah sangat bergantung pada langkah kaki kuda.
Pada mulanya, kuda mungkin dipakai untuk daging dan susu. Namun seiring waktu, manusia mulai memanfaatkannya untuk membantu perjalanan, membawa barang, bahkan menjadi bagian penting dalam perdagangan dan peperangan.
Di banyak tempat lain, menunggang kuda telah beralih fungsi menjadi hobi, olahraga, wisata, atau tradisi seremonial. Di Rote, kuda masih punya peran penting dalam keseharian masyarakat.
Melihat bagaimana anak-anak sekolah menunggang kuda saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia berseragam putih abu dan kepala dihiasi tiilangga, serta bapak-bapak yang mengendarai kuda di jalan atau mengawasi ternak mereka dari atas punggung kuda, membuat saya merasa begitu dekat dengan alam dan kesederhanaan. Pemandangan yang terasa sangat “purba”, namun tetap hidup hingga hari ini.
Sama seperti para portir Gunung Rinjani yang membawa turun barang-barang para pendaki hanya dengan menggunakan sandal jepit, begitu pula para penunggang kuda di Rote Ndao yang tidak membutuhkan pelana-pelana mahal. Yang sering saya lihat bokong mereka langsung bersentuhan dengan punggung kuda dengan kaki melebar ke samping membentuk payung. Cara mereka menyeimbangkan tubuh di atas kuda menjadi sebuah keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun tanpa teori.
Rasanya seperti melihat dua zaman berjalan berdampingan: dunia modern yang sering kehabisan bahan bakar, dan dunia lama yang masih tahu cara pulang tanpa mesin.
Kuli Aeseli, 28 Mei 2026





Komentar
Posting Komentar