DIALOG KITA
Kamu sedang jatuh, terluka, gagal, kecewa, tertekan, berasa hatimu sedang mengucurkan darah kental merah kehitaman. Air matamu tak kuasa kau bendung, terus mengalir bagaikan tanggul kelebihan daya tampung. Sadarmu melayang-layang, meloncat-loncat liar; kau biarkan saja sembari tanganmu menari di atas layar ponsel atau menggosok perkakas kotor-membilasnya hingga bersih atau mengaduk-ngaduk bumbu dalam genangan minyak panas di dalam tacu atau tersenyum mendengarkan cerita anakmu atau tertawa membaca pesan temanmu. Di dalam dirimu kau sedang mengutuk sesuatu yang membuatmu terluka. Sesuatu yang membuat kau merasa kehilangan muka, sesuatu yang menurutmu, "tidak seharusnya seperti ini." Kau ingin menceritakannya tapi kau tak bisa. Yang bisa kau lakukan hanyalah mengambil waktu sendiri mengajak dirimu bercakap-cakap, melihat kembali ke belakang, mengamatinya, menganalisisnya. Hingga akhirnya kau ada pada kesimpulan, "Bukan dia, atau sesuatu yang menurutmu menjadi penyebab a...



