Kacang Rebus
Beberapa hari yang lalu cuaca cukup cerah ketika urusan saya di RS Kartini selesai. Saya memilih berjalan kaki ke Hypermart. Jika sedang tak hujan saya senang sekali duduk-duduk di depan bundaran PU sambil menyaksikan kota yang ramai. Usai mengelilingi Hypermart, saya disambut hujan yang tiba-tiba datang seperti badai. Saya berjalan ke bagian yang kanopinya lebih menjorok ke luar agar tidak terkena hujan. Ada seorang bapak duduk bersandar di kaca; menjaga dua bakul berisi kacang rebus yang sudah dikemas ke dalam plastik-plastik kecil dan dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Saya kemudian duduk bersila di sampingnya. Sebuah pohon yang tidak terlalu besar tumbang di depan sebuah tenda Bank Indonesia, tempat perlombaan mewarnai sedang digelar. “Uuuuuh, pohon su tumbang,” kata bapak itu dengan nada yang seperti nyanyian. “Hujan besar nah tadi,” saya menanggapinya. “Belakangan memang hujan terus tadi dengan angin. Ini kapal dong pasti son ada yang jalan.” “Itu su, Bapa. Saya mau pulang ke R...



