Hikmat
Malam itu mendung ketika saya menunggui grab yang akan mengantarkan saya pulang ke rumah. Saya masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan tenang menikmati musik yang terdengar lembut. Tak berapa lama sopir itu memulai percakapan. “Hari ini banyak pesta, Bu. Dari tadi saya antar orang pesta di mana-mana.” Saya menoleh keluar sebentar. Tak nampak tenda-tenda dan kursi atau musik-musik yang keras menggema di jalan yang kami lalui. 'Pesta sebelah mana yang ia maksud?' saya membatin. “Ada acara memangnya, Pak?” tanya saya. “Loh, ibu tidak tahu? Hari ini banyak yang wisuda. Di mana-mana ada pesta,” jawabnya sambil tertawa. Tawa yang di telinga saya terdengar seperti keprihatinan yang disamarkan. Saya tersenyum kecil. “Yah, begitulah cara orang NTT mengungkapkan rasa syukur, Pak. Meskipun kadang harus berutang, dan yang baru diwisuda pun belum tentu tahu bagaimana nasibnya nanti.” “Itulah, Bu,” katanya lagi, kali ini suaranya sedikit lebih dalam. “Saya jadi teringat waktu melamar istri...



