DIALOG KITA




Kamu sedang jatuh, terluka, gagal, kecewa, tertekan, berasa hatimu sedang mengucurkan darah kental merah kehitaman. Air matamu tak kuasa kau bendung, terus mengalir bagaikan tanggul kelebihan daya tampung. 


Sadarmu melayang-layang, meloncat-loncat liar; kau biarkan saja sembari tanganmu menari di atas layar ponsel atau menggosok perkakas kotor-membilasnya hingga bersih atau mengaduk-ngaduk bumbu dalam genangan minyak panas di dalam tacu  atau tersenyum mendengarkan cerita anakmu atau tertawa membaca pesan temanmu.


Di dalam dirimu kau sedang mengutuk sesuatu yang membuatmu terluka. Sesuatu yang membuat kau merasa kehilangan muka, sesuatu yang menurutmu, "tidak seharusnya seperti ini."


Kau ingin menceritakannya tapi kau tak bisa. Yang bisa kau lakukan hanyalah mengambil waktu sendiri mengajak dirimu bercakap-cakap, melihat kembali ke belakang, mengamatinya, menganalisisnya. 


Hingga akhirnya kau ada pada kesimpulan, "Bukan dia, atau sesuatu yang menurutmu menjadi penyebab atas apa yang kau rasa-yang salah melainkan kau, yah kau sendiri; persepsimu-penilaianmu terhadap seseorang atau sesuatu situasi itulah yang salah."

 

Hatimu masih diliputi mega mendung, air matamu masih sering jatuh, isak kadang terdengar di tengah aktivitasmu. Kau lalu kembali ke dalam hatimu, merangkul persepsimu-penilaianmu yang salah sembari kau berkata, "Sudah sonde apa-apa, mari kita bikin ini kesalahan jadi pembelajaran. Kita harus kuat. Kita pasti bisa. Sisa hari ini harus kita bikin bermakna. Berulang kali kau katakan pada dirimu kau berharga, kau diberkati, kau dicintai."


amaryanti di saat teduh pagi

Rote, 22 Agustus 2024

Komentar

Postingan Populer