Lembu Kesayangan Jun dan Sapi Pengguna Jalan
Pagi itu Jun berpamitan kepada Heidi seperti yang biasa dilakukannya. Ia berdiri di depan kemah dengan tongkat gembalanya di tangan, wajahnya tenang seperti pagi-pagi lainnya.
"Apakah sudah kau kandangkan semua ternak-ternak kita?"
"Sudah," Jun menjawab singkat.
Entah mengapa Heidi merasa ada yang berputar-putar di perutnya sejak ia bangun di pagi hari. Sensasi yang pernah ia rasakan saat lembu kesayangan suaminya menanduk anak lelaki Yoheb. Lembu yang seharusnya dirajam dan dibagi-bagi dagingnya itu dilepaskan setelah Jun memberikan sepuluh ekor kerbau dan sepuluh syikal perak sebagai permintaan maaf. Ia diberi peringatan keras untuk lebih ketat mengawasi ternak-ternaknya.
Jun adalah orang ketiga terkaya di perkemahan itu. Ia tak disukai oleh warga desa karena dianggap lalai menjaga ternak-ternaknya.
Sudah terlalu sering lembu-lembunya menanduk, menghancurkan rumah dan kebun tetangganya, tetapi ia selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan uang. Heidi sudah berulang kali memperingatkannya untuk membuat kandang yang lebih kuat dan juga menambah orang yang bisa menjaga ternak-ternak mereka, namun Jun selalu mengatakan nanti dan nanti.
Minggu berganti minggu hingga datanglah hari itu. Saudara perempuan Heidi berlari tergesa-gesa untuk menemui adiknya. Ia langsung meraih wajah adiknya dengan tangan gemetaran. Wajahnya memerah dan basah oleh keringat dan air mata. Setengah histeris perempuan berkerudung itu berkata, "Kamu punya lembu yang menanduk Yoheb. Yoheb sudah mati."
"Haaaah? Tidak! Tidak mungkin!" Suara Heidi lebih nyaring dari suara saudarinya.
Heidi melepaskan tangan kakaknya dan berlari ke luar kemah. Ia meneriakkan nama Jun ke segala arah.
"Jun, Jun! Apa sudah saya bilang, bikin baik-baik itu kandang. Juun, Juun!"
Seruannya dijawab isak tangis saudara perempuan Heidi dan perempuan-perempuan tetangga kemahnya yang terus berdatangan.
Sayup-sayup Heidi bisa mendengar raungan kesakitan lembu milik mereka yang dirajam oleh warga. Di balik debu tebal di kejauhan para pria terlihat mengangkat tangan mereka lalu melemparkan sesuatu yang sudah pasti batu.
Ia berlari mendekat, diikuti saudari perempuan dan perempuan-perempuan lainnya.
Orang-orang tak lagi melempari sesampainya ia di kerumunan itu. Heidi jatuh pingsan di atas jasad Jun yang berlumuran darah.
“Tetapi jika lembu itu sudah biasa menanduk sejak dahulu dan pemiliknya telah diperingatkan, tetapi tidak dijaganya juga, sehingga lembu itu membunuh seorang laki-laki atau perempuan, maka lembu itu harus dirajam dan pemiliknya juga harus dihukum mati.”
— Keluaran 21:29
Kalau dikaitkan dengan kehidupan saat ini, ada banyak sekali kebun-kebun masyarakat yang dirusak oleh ternak. Dan tidak sedikit kecelakaan berujung maut disebabkan oleh hewan-hewan ternak yang dilepas begitu saja oleh pemiliknya. Ternak-ternak pengguna jalan yang tak pernah tahu aturan lalu lintas.
Dan jika hukuman mati bagi pemilik ternak bisa berlaku saat itu, mengapa hukum bagi pemilik ternak di zaman modern saat ini menjadi sangat kendur?
Hukum kuno itu keras, tetapi ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan hari ini: kelalaian juga bisa membunuh. Kelalaian yang merenggut nyawa tidak pernah dianggap perkara sepele.
amaryanti
Tofa, 05Maret2026



Komentar
Posting Komentar