Hikmat
Malam itu mendung ketika saya menunggui grab yang akan mengantarkan saya pulang ke rumah. Saya masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan tenang menikmati musik yang terdengar lembut. Tak berapa lama sopir itu memulai percakapan.
“Hari ini banyak pesta, Bu. Dari tadi saya antar orang pesta di mana-mana.”
Saya menoleh keluar sebentar. Tak nampak tenda-tenda dan kursi atau musik-musik yang keras menggema di jalan yang kami lalui. 'Pesta sebelah mana yang ia maksud?' saya membatin.
“Ada acara memangnya, Pak?” tanya saya.
“Loh, ibu tidak tahu? Hari ini banyak yang wisuda. Di mana-mana ada pesta,” jawabnya sambil tertawa. Tawa yang di telinga saya terdengar seperti keprihatinan yang disamarkan.
Saya tersenyum kecil. “Yah, begitulah cara orang NTT mengungkapkan rasa syukur, Pak. Meskipun kadang harus berutang, dan yang baru diwisuda pun belum tentu tahu bagaimana nasibnya nanti.”
“Itulah, Bu,” katanya lagi, kali ini suaranya sedikit lebih dalam. “Saya jadi teringat waktu melamar istri saya di Rote. Biayanya mengerikan.”
Ia tertawa sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi tetap saya pakai hikmat.”
Kata hikmat membuat saya terdiam. Tidak semua orang mengucapkannya dengan kesadaran penuh.
“Mas… apa?” tanya saya.
“Saya Nasrani, Bu. Kan di aplikasi ada nama saya,” jawabnya terkekeh.
Saya baru sadar, sejak tadi saya hanya memperhatikan plat nomor kendaraan, bukan nama pengemudinya. Ada rasa malu kecil yang singgah, seperti diingatkan untuk lebih sungguh melihat orang.
“Ah, iya ya. Berarti waktu menghadap keluarga urus sendiri, ya, Mas?”
“Iya, Bu. Saya bukan tipe cowok yang bikin kekacauan dulu baru nikah paksa. Saya tidak begitu. Saya datang baik-baik. Tapi waktu mereka sebut angka-angka itu, kepala saya langsung sakit. Kalau lihat uang yang saya punya, rasanya tidak cukup.”
Ia menarik napas pelan, seperti memanggil memorinya kembali.
“Lalu saya minta hikmat dari Tuhan. Saya pikir, kalau soal air susu ibu itu memang harus, itu adat, tidak bisa tidak. Tapi kalau saya menikah dan tidak ditunggui ibu saya, saya tidak bisa. Lebih baik batal.”
Saya membayangkan seorang anak lelaki yang berdiri di antara adat, harga diri, dan cinta.
“Akhirnya saya video call ibu saya. Ibu bilang, ‘Kak, ibu sudah usia sekian, sudah bisa naik pesawat atau kapal laut.’ Nah, itu jawabannya.”
Suaranya berubah. Lebih tenang. Lebih yakin.
“Saya lalu bilang ke keluarga mereka, ‘Maaf Bapak Mama semua, To’o, kalau sekiranya ini tidak diizinkan, saya tidak mau paksa. Besok saya beli tiket, saya pulang ke Kupang.’”
Saya teringat utang-utang yang terus mengekor para pasutri dan bahkan keluarga dalam beberapa kisah pernikahan.
“Mereka keluar sekitar dua puluh menit untuk berunding,” lanjutnya. “Waktu masuk lagi, mereka bilang, ‘Kak, terima kasih sudah datang. Kalau memang mau lanjut dengan nona kami, kami kasih izin. Cuma ada satu syarat.’”
“Saya sudah mikir macam-macam. ‘Syaratnya apa, Bapak?’ tanya saya.
“Mereka bilang, ‘Kalau sudah menikah, panggil pendeta, sembelih binatang, dan jangan lupa air susu ibu.’”
“Oh, siap,” katanya, menirukan dirinya yang dulu, lebih muda dan mungkin lebih tegang.
“Terakhir saya jabat tangan mereka kuat-kuat. Dan jadi. Kami menikah tahun 2018.”
Ada jeda. Mobil berhenti di persimpangan kecil. Cerita tentang cinta, adat, dan hikmat tiba-tiba selesai begitu saja, seperti banyak hal dalam hidup yang akhirnya hanya menjadi kenangan.
Ia kembali menjadi pengemudi yang harus fokus pada arah.
“Maaf, ini turunnya di sebelah mana? Kanan atau kiri?”
Saya melihat ke depan, lalu menjawab pelan, “Kiri, Pak.”
Percakapan kami berakhir begitu saja. Mobil berhenti, saya turun, dan ia kembali menjadi pengemudi yang mungkin akan mengantar penumpang lain ke pesta berikutnya. Namun maknanya tidak berhenti di situ. Cerita itu tinggal di dalam hati saya.
Ada beberapa hal yang benar-benar membuat saya tersentuh.
Pertama, ketika ia menggunakan kata hikmat.
Tidak semua orang memakai kata itu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi sopir Grab ini berkata dengan tenang bahwa ia meminta hikmat dari Tuhan.
Dalam pengertian iman, hikmat berarti meminta petunjuk Tuhan, tidak mengandalkan emosi, dan percaya bahwa Tuhan bisa membuka jalan ketika keadaan terasa buntu. Di tengah tekanan adat dan angka-angka yang membuat kepala pusing, ia tidak memilih marah atau memaksa. Ia memilih berdoa.
Saya teringat firman Tuhan:
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”
— Kolose 4:6
Cara ia berbicara kepada keluarga calon istrinya menunjukkan hikmat dalam perkataan. Tidak menantang. Tidak merendahkan. Tidak mengancam. Ia hanya berkata dengan tenang bahwa jika tidak diizinkan, ia akan pulang. Tegas, tetapi tetap penuh hormat.
Hal kedua yang menyentuh saya adalah penghormatannya kepada ibunya.
“Tapi kalau saya menikah dan tidak ditunggui ibu, saya tidak bisa. Lebih baik batal.”
Di situ saya melihat cinta yang besar kepada seorang ibu. Restu ibu bukan formalitas. Itu fondasi. Ia tidak ingin membangun rumah tangga dengan mengabaikan perempuan yang telah melahirkannya.
Ada urutan yang ia jaga: hormat kepada orang tua lebih dahulu, baru melangkah ke pernikahan.
Hal ketiga adalah sikapnya terhadap adat.
Ia tidak melawan adat. Ia menerima bahwa dalam sebuah pernikahan ada “air susu ibu” sebagai bentuk penghormatan kepada wanita yang telah melahirkan calon istrinya. Ia tidak menolak nilai itu. Ia mengakuinya.
Namun ia juga tidak ingin memaksakan diri pada biaya-biaya lain yang memberatkan. Ia memilih mundur daripada harus memulai pernikahan dengan beban yang mungkin menyisakan beban atau tekanan di kemudian hari.
Di situ saya belajar sesuatu: adat memang harus dilestarikan, tetapi tidak harus menjadi beban yang menghancurkan. Nilai harus dijaga, tetapi manusia juga harus dijaga.
Percakapan singkat di dalam mobil itu mengingatkan saya bahwa hikmat bukan milik para pendeta atau pastur saja. Hikmat bisa lahir dari hati yang sederhana. Dari seorang sopir yang mungkin tidak pernah berdiri di mimbar, tetapi tahu bagaimana berdiri dengan tenang di hadapan tekanan.
Dan saya tidur hari itu dengan satu pelajaran: di tengah pesta, biaya, dan kebisingan dunia, yang paling berharga bukanlah kemeriahan, tetapi hati yang tahu bagaimana berbicara dengan kasih, menghormati orang tua, dan memilih jalan yang benar tanpa memaksa.
Amaryanti
Tofa, 02 Maret 2026


Komentar
Posting Komentar