Kacang Rebus


Beberapa hari yang lalu cuaca cukup cerah ketika urusan saya di RS Kartini selesai. Saya memilih berjalan kaki ke Hypermart. Jika sedang tak hujan saya senang sekali duduk-duduk di depan bundaran PU sambil menyaksikan kota yang ramai. Usai mengelilingi Hypermart, saya disambut hujan yang tiba-tiba datang seperti badai. Saya berjalan ke bagian yang kanopinya lebih menjorok ke luar agar tidak terkena hujan. Ada seorang bapak duduk bersandar di kaca; menjaga dua bakul berisi kacang rebus yang sudah dikemas ke dalam plastik-plastik kecil dan dijual dengan harga 10 ribu rupiah.

Saya kemudian duduk bersila di sampingnya. Sebuah pohon yang tidak terlalu besar tumbang di depan sebuah tenda Bank Indonesia, tempat perlombaan mewarnai sedang digelar. “Uuuuuh, pohon su tumbang,” kata bapak itu dengan nada yang seperti nyanyian.

“Hujan besar nah tadi,” saya menanggapinya.

“Belakangan memang hujan terus tadi dengan angin. Ini kapal dong pasti son ada yang jalan.”

“Itu su, Bapa. Saya mau pulang ke Rote tidak bisa nih.”

“Oh, Ibu dari Rote? Saya juga orang Rote. Rote Dengka desa Lilo.”

Saya kaget ketemu orang Rote di sini. “Ah, dari Rote juga. Bapa pung nama siapa?”

“Lens,” jawabnya singkat.

“Lens, Lens Haning?”

Ia tertawa. “Bukan, Ibu. Nama saya Lens Elo.” Bapak itu lalu bercerita kalau rumahnya di seputaran bundaran PU. Istrinya juga orang Rote, anak mereka tujuh orang. Dua orang sudah sarjana, di antara lima yang tersisa ada satu yang sudah menikah, ada yang sudah tamat SMA dan bekerja, dua masih sekolah, dan satu di rumah saja. Setahun dua kali Bapak Lens ke Rote untuk memanen kacang. Untuk jualan sehari-hari biasanya dibeli di Liliba.

“Saya punya babi ada 11 ekor. Kemarin saya jual 3 ekor dapat 12 juta,” ujarnya lagi dengan senyum mengembang di wajah.

Saya bertanya berapa banyak kacang yang dijual dalam sehari, “Sehari bisa dua ratus hingga tiga ratus ribu.” Dan beliau jualan hampir setiap hari setelah jam makan siang. Pagi hari ia mengurus babi-babinya. “Bapak punya gaji lebih besar dari saya nih mah,” ujar saya dan ia tertawa lepas, kami tertawa.

Tidak lama bapak itu menyapa saya, “Mbak, orang Jawa kah?”

“Bukan, Bapak. Saya orang Ende, tapi dengan suami tinggal di Rote.”

Beberapa pegawai Hypermart nampak sedang membersihkan pohon yang tumbang saat hujan reda. Bapak itu bangun dan mendekati mereka. Ia meminta batang-batang pohon dan ranting-ranting itu untuk ia bawa pulang, lalu kembali duduk dan menawarkan saya sebungkus kacang.

‘Mungkin akan dijemur dan dijadikan kayu bakar untuk merebus kacang,” pikir saya.

Saya memberikannya sepuluh ribu, meminta izin untuk memposting gambarnya di media sosial- sebelum ia berlalu untuk kembali menjajakan kacang-kacang yang tersisa..

Hujan turun perlahan, orang-orang kembali beraktivitas setelah reda sejenak. Di bawah tenda lomba dua orang MC memberikan pertanyaan kepada anak-anak peserta lomba, “Uang seratus ribu itu warnanya apa?” Beberapa orang anak yang mengenakan seragam SMP yang sedang melewati jalan di depan tempat saya duduk berseru dengan lantang, “Merah.” Tawa mereka lalu pecah di udara.

Amaryanti
Tofa, 05 Maret 2026


Komentar

Postingan Populer