Catatan Setelah Membaca Metamorfosis: Tentang Keterasingan, Kasih, dan Nilai Manusia
Metamoforsis menceritakan tentang
Gregor Samsa, seorang pedagang keliling si penjual kain dan barang-barang
lainnya yang terbangun di suatu pagi di
atas pembaringannya dalam wujud seekor kecoa yang menjijikkan.
Hal yang dipikirkannya pertama
kali bukanlah perubahan wujud dirinya melainkan betapa kerasnya hidup yang ia
jalani, siang dan malam berada dalam perjalanan mengerjakan bisnis. Ia bekerja
sangat keras untuk melunasi hutang keluarganya. Dan dalam perubahan wujudnya
yang seperti itu ia tetap harus bangun untuk pergi bekerja di pukul lima pagi
seperti pagi-pagi yang sudah lewat sebelumnya.
Ayah, ibu, adik dan pegawai dari
kantornya berteriak padanya dari balik pintu yang terkunci menanyakan
keadaannya dan memintanya untuk pergi bekerja pada pagi hari itu. Ia menjawab
namun yang keluar dari mulutnya adalah suara binatang yang tidak dimengerti
oleh anggota keluarga dan pegawai dari kantornya.
Pada akhirnya, setelah melihat
perubahan fisik Gregor, sikap orang-orang di sekitarnya pun ikut berubah. Kedua
orang tuanya dan atasannya mulai memandang Gregor dengan rasa takut, jijik, dan
penuh penolakan. Pada awalnya, Grete, adik perempuannya, masih bersedia merawat
Gregor, membersihkan kamarnya, dan memberinya makan. Namun, seiring berjalannya
waktu, Grete mulai merasa lelah dan akhirnya menyerah. Ia membiarkan kamar
Gregor dipenuhi debu dan barang-barang yang tidak terpakai. Gregor pun semakin
terasing dan dianggap sebagai beban oleh keluarganya.
Di saat Gregor tidak mampu lagi
bekerja, ayah, ibu dan adiknya mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan
hidup dan perlahan sikap mereka terhadap Gregor pun berubah.
Melalui kehidupan Gregor, Kafka mau
menunjukkan bahwa manusia sering dihargai hanya berdasarkan produktivitas dan
manfaatnya. Selama ia bekerja untuk keluarganya ia dihargai namun saat ia
mengalami metamoforsis menjadi serangga dan tidak dapat bekerja ia dianggap
sebagai beban. Metamoforsis juga berbicara tentang hilangnya identitas,
kebebasan, harga diri dan keterasingan yang dialami Gregor. Meskipun masih
memiliki pikiran dan perasaan sebagai manusia, ia hanya mampu mendengarkan
percakapan serta menatap wajah orang-orang yang dikasihinya tanpa dapat lagi
berkomunikasi ataupun dipahami oleh mereka. Keadaan itu membuat Gregor semakin
terasing, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Bagian yang paling menyedihkan
bagi saya adalah ketika Grete memainkan biola di hadapan kedua orang tuanya dan
para penyewa kamar di rumah mereka. Tidak seorang pun benar-benar memperhatikan
permainannya. Para penyewa bahkan cenderung meremehkannya. Hanya Gregor yang
mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia merayap perlahan keluar dari kamarnya
karena terpesona oleh permainan biola adiknya. Dalam hatinya, Gregor berharap
Grete mau bermain biola khusus untuknya di dalam kamar.
Gregor sebenarnya sangat
menyayangi Grete. Ia bahkan pernah bermimpi untuk menyekolahkan adiknya ke
sekolah musik agar bakatnya dapat berkembang. Namun, ketika keberadaan Gregor
yang selama ini disembunyikan akhirnya diketahui oleh para penyewa, suasana berubah
menjadi kacau. Bukannya memahami perasaan Gregor, keluarganya justru semakin
merasa malu dan menolaknya. Peristiwa yang terjadi setelah itu sungguh
menyedihkan karena ketulusan kasih Gregor kepada adiknya tidak lagi dapat
dilihat ataupun dipahami oleh keluarganya.
Sebenarnya, isi novel ini terasa
tidak masuk akal bagi saya. Cerita dibuka dengan perubahan tubuh Gregor tanpa
penjelasan mengenai penyebabnya. Bahkan hingga akhir, tidak ada upaya dari
keluarganya untuk membawanya berobat. Tidak ada pula narasi yang menjelaskan
bahwa semua kejadian itu hanyalah mimpi.
Setelah membaca novel ini, saya
mulai memahami konsep absurditas, yaitu keadaan yang terasa tidak masuk akal,
aneh, tidak adil, atau sulit dijelaskan dengan logika biasa. Pada kenyataannya,
kehidupan manusia pun sering berjalan seperti itu. Ada banyak kejadian yang
tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa
sesuatu yang absurd itu terjadi lalu berubah menjadi suatu penerimaan: hal
yang sering sekali terjadi dalam kehidupan manusia.
Metamorfosis karya Kafka juga menjadi pengingat buat saya untuk menjaga kesehatan. Perubahan tubuh Gregor menjadi kecoak saya maknai sebagai gambaran tubuh manusia saat mengalami sakit. Di saat sakit seseorang mungkin saja kehilangan kemandirian dan sangat bergantung pada bantuan orang lain. Kendati demikian nilai seseorang tidak seharusnya ditentukan oleh kesehatan, produktivitas, ataupun manfaat yang dapat diberikannya kepada orang lain. Tubuh seseorang dapat kehilangan kekuatannya namun tidak pernah kehilangan nilai dirinya.
Kelebihan buku ini adalah mampu
menghadirkan persoalan manusia melaui cerita yang sederhana dan juga aneh. Kafka
membiarkan pembaca menafsirkan semuanya dalam refleksi pribadi para pembaca.
Namun, sejujurnya saya mengharapkan akhir yang berbeda dan ketidakjelasan dari cerita
ini menjadi kekurangan bagi pembaca yang lebih menyukai cerita dengan latar
belakang yang jelas.
Secara keseluruhan Metamoforsis
merupakan cerita yang suram dan tidak nyaman tetapi justru meninggalkan banyak
pertanyaan tentang keluarga, kasih, keterasingan, dan juga nilai seorang
manusia.



Komentar
Posting Komentar