Bumi Sebagai Ibu Kita


 Jalur jalan favorit saya adalah di perkantoran. Saya sangat suka dengan rumput-rumput yang kini sedang hijau sehijau-hijaunya menatap cemara-cemara yang berdiri tegak menjulang bersisian di balik deretan pagar tembok kantor.

Pagi ini hijau itu tak lagi asri perkaranya sampah-sampah bekas kudapan dan makanan bersama kawan-kawannya; botol minuman, tisu, kulit permen nampak berserakan di atas rumput-rumput.

Setiba di rumah saya berganti pakaian untuk jalan pagi dan melewati jalan tersebut. Dari kejauhan saya melihat ada pergerakan di lokasi itu. Langkah saya percepat untuk bisa melihat jelas gambaran kabur itu. Bapak-bapak dan dua ibu sedang membersihkan: ada yang memegang sapu, ada yang memegang kantung sampah, ada yang berjalan bolak-balik; menunduk berdiri–menunduk berdiri memungut sampah-sampah yang ada.

Saya akhirnya olahraga sambil pilih sampah. Saya tak henti membatin, “Apa susahnya bawa pulang itu sampah-sampah dong, bukan ada berat ju. Kulit permen, tisu, botol minum berat kah? Taruh di saku tidak bisa kah? Kenapa harus jadi tanggung jawab orang lain untuk dong pung sampah?”

Saat saya berdiri dan mau mengejar para pegawai yang sudah berjalan mendahului saya, seseorang sudah berdiri di samping saya dengan kantung sampah yang terbuka. “Niiiiing,” seru saya dan kami berdua tertawa bersama lalu lanjut memungut sampah sambil menyesali perilaku kecil tak bertanggung jawab dari warga kota ini.

Ada yang mengatakan kalau sampah itu ditinggalkan oleh mereka yang ikut sidang di kantor pengadilan kemarin. Saya juga melihat ada sekumpulan orang juga di depan kantor bupati saat melewati jalan itu sepulang dari sekolah.

Depan kantor pengadilan dan sekitarnya memang kerap jadi pusat keramaian dari peserta sidang, peserta demo, atau pada saat sedang terjadi pemilu. Siapa saja yang membaca ini, “Tolong kalau hadir sidang atau apalah-apalah, bawa dengan kantung sampah e. Kalau kantung sampah tidak ada, nah titip tahan di mama-mama punya tas itu kulit permen, tisu, kemasan gelas mineral, dan sampah-sampah kecil lainnya. Itu dos-dos makanan nah taruh di oto dan bawa pulang ke rumah atau cari tempat sampah di mana nah buang di situ. Tolong e; secara para petugas yang tunduk berdiri untuk pungut itu kulit permen ju lumayan capeknya. Belum lagi yang pi pilih nih mama-mama paruh baya. Sama sa kek besong buang sampah baru suruh besong pu mama pilih! Jadi tolong sadar sedikit dengan sampah masing-masing tuh.”

“Kemarin kami pergi kasih bersih di Ba’a, Ka’e,” kata Ning sambil memungut kulit permen, “hari ini kami kasih bersih di seputar sini.”  

Ning adalah salah satu P3K dari Dinas Perkim. Semua yang turut membersihkan juga dari Dinas Perkim. Terima kasih untuk dedikasinya.

Sebagai penutup; ini bukan tentang siapa yang dibayar untuk membersihkan sampah di kota dan seputarannya. Ini tentang kesadaran. Kesadaran dan tanggung jawab akan sampah-sampah pribadi kita, sampah milik kita sendiri; tisu, botol minum, kulit permen. Ini juga tentang cara kecil kita mencintai bumi yang sedang sekarat. Saat akan membuang sampah ingatlah bumi sebagai ibu. Saya pikir tidak ada satu pun dari kita yang tega meludahi ibu kita kan?

Amaryanti
Baninggolon, 06 Januari 2026

 

Komentar

Postingan Populer