Kerja Bakti Desa Suelain

 

Saat musim penghujan datang, rumput-rumput tiba-tiba menghijau, pohon-pohon duri mendadak berdaun, dan tanaman-tanaman liar tumbuh subur di sepanjang jalan di sisi kiri dan kanan jalan.

Tanaman-tanaman liar akan sangat mengganggu pemandangan dan lalu lintas jika tidak dibersihkan. Karena berada di luar pekarangan rumah penduduk atau di pinggir jalan-jalan sepi, maka pohon-pohon itu subur berkembang dan bisa berbahaya bagi para pengguna jalan, khususnya di jalanan berbelok.

Dalam perjalanan menuju ke sekolah pagi ini, saya melihat empat hingga lima orang bapak-bapak dengan parang di tangan masing-masing di dekat SMPN 4. Dan ketika hendak kembali ke rumah beberapa jam kemudian, makin banyak bapak-bapak yang memotong pohon-pohon dan rumput-rumput liar dari jembatan hingga SMPN 4.

Pemandangan itu benar-benar menarik perhatian saya. Saya menghentikan motor dan mengambil foto bapak-bapak dan sudah diizinkan untuk diunggah di media sosial. Salah satu dari mereka menjelaskan kalau mereka berasal dari Desa Suelain. Batas Desa Suelain adalah dari tugu SMPN 4 hingga jalan sebelum bendungan.

“Tanaman sudah tutup jalan nih, jadi kami kasih bersih biar rapi dan aman. Kami kerja bakti, Ibu,” kata seorang bapak menjelaskan.

Inisiatif untuk membersihkan jalanan itu dipicu oleh imbauan dari PJ Kepala Desa mereka yang saya lupa namanya. Saya tersenyum saat melihat bagaimana mereka saling mengoper sebungkus tembakau yang sudah hampir habis, sementara yang lain melinting daun lontar yang sudah terisi tembakau kering.

“Ibu, kami tidak bisa kerja kalau tidak merokok. Dan kami sudah merokok dengan daun lontar ini sejak dulu, sudah turun-temurun,” jawab salah satu dari mereka saat saya mengatakan kalau merokok itu berbahaya untuk kesehatan.

Percakapan tentang rokok itu saya tutup dengan, “Saya bangga, nah, dengan bapak-bapak desa ini. Senang sekali lihat semangat bapak-bapak semua nih. Di tempat lain, di tengah kota yang setiap hari orang lalu-lalang, jarang ada warga yang punya rasa peduli dengan rumput-rumput liar yang menutupi jalan,” kata saya.

Ada yang bertanya, alamat rumah di mana? Asal mana? Lewat jalan itu mau ke mana? Setelah saya menjawab semua pertanyaan itu, saya pun pamit dan berkata, “Semangat bekerja, bapak-bapak semua.”

Lingkungan yang aman dan nyaman lahir dari rasa peduli, dengan semangat kebersamaan dan kesediaan untuk bertindak, meski tanpa upah, tanpa sorotan, dan tanpa menunggu orang lain terlebih dahulu.

Semoga semangat ini bisa menjadi virus bagi warga Rote lainnya, termasuk saya.

Amaryanti
Rote, 05 Januari 2026

 

Komentar

Postingan Populer