Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Hal. 1–24
Jurnal Membaca #1
Sabtu, 4 Juli 2026Akhirnya buku ini sampai di tangan saya.
Entah saya yang memilih buku ini, atau justru buku ini yang diam-diam memilih saya untuk membacanya pada waktu yang tepat.
Saya teringat ketika mendengar bahwa buku ini begitu membekas bagi Kak Iksan. Setelah membuka halaman pertamanya, saya mulai mengerti mengapa. Ada buku yang meminta kita membaca perlahan, tetapi ada juga buku yang membuat kita terus membalik halaman seolah takut kehilangan sesuatu di antara jedanya.
Diksinya ringan. Percakapannya terasa hidup. Namun di balik kesederhanaannya, ada luka yang tidak sederhana.
Tentang seorang anak yang dibully.
Tentang bagaimana kata-kata, ejekan, dan kesepian bisa tinggal begitu lama di dalam diri seseorang, lalu diam-diam ikut membentuk siapa dirinya ketika dewasa nanti.
Dan yang terasa paling menyakitkan bukan selalu tentang bullying itu sendiri. Kadang yang lebih melukai adalah ketika rumah gagal menjadi tempat berlindung.
Ketika seorang anak pulang membawa luka, tetapi yang diterimanya justru kata-kata seperti:
"Jangan cengeng."
"Kamu terlalu perasa."
"Biasalah, namanya juga anak-anak."
Padahal mungkin yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang mau duduk di samping mereka dan berkata, "Ceritakan semuanya. Aku mendengarkan." Yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang bersedia memberikan telinganya untuk mendengar.
Anak-anak sering dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, tanpa pernah diajari bagaimana cara membawa luka yang terlalu berat untuk usia mereka. Dan ketika rumah tidak lagi terasa aman, sepi datang mengambil tempatnya.
Tidak sedikit yang akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus menghadapi semuanya sendirian.Sebagian berhasil bertahan. Sebagian lainnya memilih menyerah.
Kadang bukan ejekan di sekolah yang paling lama tinggal di ingatan seseorang. Kadang yang paling lama tinggal adalah perasaan bahwa tidak ada tempat untuk pulang.
Salah satu kalimat yang paling membekas bagi saya ada di halaman enam:
"Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan."
Dan yang menyedihkan adalah:
Tidak semua orang dewasa pernah benar-benar selesai menjadi anak-anak.
Ada orang-orang yang tumbuh besar sambil membawa luka yang tidak pernah sempat mereka ceritakan.
Ada anak-anak yang terlalu cepat belajar menjadi kuat karena mereka tidak punya pilihan lain.
Ada orang dewasa yang terlihat baik-baik saja, padahal sebagian dari dirinya masih tertinggal di masa lalu, di usia ketika mereka hanya ingin didengarkan, dipeluk, atau diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun sebagai orang percaya, saya menemukan penghiburan dalam ayat ini:
"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."
Mazmur 34:18
Tidak semua orang dewasa pernah benar-benar selesai menjadi anak-anak. Tetapi mungkin, di hadapan Tuhan, kita selalu diperbolehkan pulang sebagai anak-anak yang lelah. Dan mungkin itulah salah satu bentuk kasih-Nya yang paling lembut; Bahwa ketika dunia meminta kita untuk terus berjalan, Tuhan tetap menyediakan tempat untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan pulang.
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati — Brian Khrisna
📍 Halaman 1–24
🤍 @a.maryanti // @rumahbacalekunik



Komentar
Posting Komentar