Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Hal 25-105 dan Pelajaran tentang Melihat Manusia Tanpa Label
Jurnal Membaca #2
Dari semua penolakan yang ia rasakan, baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari orang-orang di sekitarnya, Ale akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan sebuah wishlist sederhana: makan seporsi mie ayam sebelum ia mati.
Menurut saya, di sinilah konflik sebenarnya dimulai.
Setelah bertahun-tahun membeli mie ayam dari Pak Jo, baru pada dua puluh empat jam terakhir sebelum rencana kematiannya Ale menyadari ketidakhadiran sang penjual mie ayam itu. Hatinya sempat ingin berpaling kepada penjual mie ayam lain yang berada di dekat sana, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak. Ia justru memilih mencari Pak Jo, dipandu oleh seorang bapak yang ternyata telah membeli gerobak mie ayam milik Pak Jo.
Yang ditemuinya kemudian adalah jenazah pak Jo yang terujur kaku dan kenyataan bahwa Pak Jo telah meninggal beberapa jam sebelumnya setelah sakit dan tidak berjualan slama seminggu. Betapa ia tidak menyadari hal-hal kecil di sekitarnya karena terlalu disibukkan dengan perasaan ingin mati.
Keinginannya untuk makan mie ayam sebelum mati akhirnya dikabulkan oleh putra Pak Jo yang mengetahui dengan persis bumbu rahasia ayahnya dan memasakkannya khusus untuk Ale.
Dari titik itulah perjalanan Ale berubah ke arah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Pertemuannya dengan penjara, Murad, dan kehidupan yang sebelumnya tidak pernah bersinggungan dengannya perlahan menghadirkan pelajaran-pelajaran hidup yang mengubah dirinya. Setelah keluar dari penjara Ale diajak Murad ke tempatnya dan di sana Ale mendapat nama baru: Blek.
Ironisnya, ia justru merasa diperlakukan sebagai manusia di tempat yang sama sekali tidak pernah ia sangka: sebuah markas penjual sabu, tempat yang oleh masyarakat mungkin dianggap sebagai salah satu lapisan paling bawah dalam kelas sosial kehidupan.
Tubuhnya yang besar dan wajahnya yang dianggap menyeramkan membuat banyak orang takut kepadanya. Dan karena ia memang sudah berniat mati, ia sering memasang badan dalam berbagai situasi berbahaya, berharap kematian datang lebih cepat. Padahal sebenarnya, ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara memukul orang.
Selain Murad, ia juga bertemu dengan Louisa, dan Juleha, wanita pemilik Barbie dan salah satu barbie di tempat pelacuran yang biasa dikunjungi Murad. Murad, Louisa, dan Juleha menjadi karakter favorit saya dalam sesi membaca kali ini.
Percakapan-percakapan dengan Louisa dan Juleha membuat saya beberapa kali berhenti membaca sejenak karena begitu menggugah hati.
"Tapi inget, setelah berhasil pergi dari tempat ini, jangan gampang melabeli orang. Di dunia ini, yang mabuk itu tidak selalu dia orang jahat, dan yang berdoa itu belum tentu dia orang baik. Inget itu."— Juleha kepada Blek
Kalimat itu mengingatkan saya bahwa manusia jauh lebih rumit daripada label-label yang sering kita tempelkan kepada mereka.
Ada orang yang tampak baik di permukaan tetapi menyimpan banyak kekerasan di dalam dirinya. Ada pula orang yang hidup di tempat yang dipandang rendah oleh masyarakat, tetapi justru memiliki hati yang penuh penerimaan dan kasih.
Salah satu percakapan lain yang sangat membekas bagi saya adalah nasihat Louisa kepada Blek:
"Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab di hadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa. Kalau lo sampai memohon untuk dicintai, itu artinya lo masih mencintai orang yang salah. Lo bukan gak pantas dicintai karena bentuk lo, Le. Tapi karena lo sendiri gak bisa mencintai diri lo yang bentuknya seperti itu."— Louisa kepada Blek
Dua percakapan yang memberikan nasihat untuk tidak mudah menilai orang lain dan penerimaan diri.
Dan sebenarnya bukan hanya Ale—atau Roeslan—atau Blek yang sedang menerima pelajaran hidup itu, namun saya pun merasa sedang diajar.
Kalimat yang Membekas Hari Ini
"Yang mabuk itu tidak selalu orang jahat, dan yang berdoa itu belum tentu orang baik."
Pelajaran yang Saya Peroleh Hari Ini
Manusia tidak bisa dipahami hanya dari penampilan, masa lalu, pekerjaan, atau kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Kadang orang-orang yang paling tidak kita sangka justru menghadirkan penerimaan, sementara orang-orang yang terlihat paling baik belum tentu memahami luka kita.
Dalam Alkitab tertulis:
"Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."— 1 Samuel 16:7b
Ayat ini terasa sangat dekat dengan pelajaran yang diberikan Juleha kepada Blek.
Sering kali kita menilai manusia dari penampilan, pekerjaan, masa lalu, atau kesalahan yang pernah mereka lakukan, sementara Tuhan melihat sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Mungkin itulah sebabnya belas kasih sering kali lahir dari tempat-tempat yang tidak kita duga.
Penutup
Barangkali hidup bukan hanya tentang menemukan orang yang menerima kita apa adanya, tetapi juga belajar menerima diri sendiri apa adanya.
Dan mungkin, sebelum kita berhasil melihat orang lain tanpa label, kita perlu terlebih dahulu belajar melihat diri sendiri sebagaimana Tuhan melihat kita: lebih dari sekadar penampilan, masa lalu, atau luka yang pernah kita miliki.
Karena pada akhirnya, setiap manusia selalu lebih besar daripada cerita yang tampak di permukaan.
Refleksi bacaan Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati oleh amaryanti Halaman 25-105
@a.maryanti // @rumahbacalekunik



Komentar
Posting Komentar