Seporsi Mie Ayam Sebelum mati, Hal. 106-154 dan Ketika Tuhan Menjawab Lewat Sebuah Novel
Hari/Tanggal: Senin, 6 Juli 2026
Judul Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Halaman: 106–154
Ada kalanya sebuah buku terasa seperti datang pada waktu yang tepat. Bukan karena kita sedang mencarinya, tetapi karena ada sesuatu dalam hidup yang sedang membutuhkan jawaban. Begitulah yang saya rasakan ketika membaca bagian ini dari Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
Beberapa waktu lalu saya bertanya kepada seorang teman yang berprofesi sebagai dokter,
"Kenapa ada saja yang datang dalam hidup saya tepat ketika saya baru akan memulai sesuatu?"
Ia menjawab,
"Bisa jadi ujian tentang seberapa besar niatmu. Tapi bisa juga Tuhan sedang menjaga Mama Je."
Jawaban itu tidak beranjak pergi. Ia terus tinggal di kepala saya.
Beberapa hari kemudian, ketika membaca halaman berikutnya dari Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, saya menemukan kalimat yang terasa seperti melanjutkan percakapan kami.
"Terkadang, Tuhan membelokkan jalan hidup kita dengan amat keras sampai kita terkejut dan terluka hebat, tetapi sebenarnya Tuhan sedang menyelamatkan kita dari jalan yang salah."
— Ipul kepada Ale
Saya berhenti membaca sejenak meresapi semua kata-kata itu.
Kue Ulang Tahun yang Mengubah Segalanya
Ipul adalah pramubakti di kantor tempat Ale bekerja.
Ale menjadi sosok yang sangat berarti baginya sejak memberikan sebuah kue ulang tahun yang belum sempat dipotong.
Kue itu sebenarnya disiapkan Ale untuk dirayakan bersama teman-teman kantornya. Namun, tidak seorang pun yang mau menikmati kue itu. Dengan hati yang kecewa, Ale akhirnya memberikan kue tersebut kepada Ipul.
Tanpa disadarinya, Ipul sedang berusaha mencari kue ulang tahun untuk anaknya yang berulang tahun pada hari yang sama.
Di bagian ini saya menangkap dua hal.
Pertama, hal-hal yang kita anggap kecil ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.
Kedua, Tuhan sering kali bekerja melalui peristiwa-peristiwa yang tampak biasa. Apa yang bagi kita terlihat sebagai sebuah kekecewaan, bisa jadi merupakan jawaban atas doa seseorang.
Saya pun bertanya dalam hati, apakah ini hanya kebetulan? Atau mungkinkah Tuhan sedang memakai sebuah percakapan dan beberapa halaman buku untuk mengingatkan saya akan sesuatu yang perlu saya pelajari?
Ketika Sebuah Ayat Menemukan Maknanya
Pertanyaan itu membawa saya kembali pada sebuah ayat yang diberikan oleh secret angel saya saat retreat beberapa bulan lalu.
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia."
— Roma 8:28
Saat pertama menerimanya, saya belum benar-benar memahami makna ayat tersebut.
Namun hari demi hari saya mulai belajar bahwa tidak ada pengalaman yang sia-sia di tangan Allah.
Allah dapat bekerja melalui segala keadaanba ik sukacita maupun penderitaan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya.
Kebaikan itu tidak selalu berarti kekayaan, kesembuhan, pekerjaan baru, atau terpenuhinya semua keinginan kita. Sering kali, kebaikan itu hadir dalam bentuk pertumbuhan karakter, kasih yang semakin dalam, ketekunan, dan hikmat yang dibentuk melalui setiap proses kehidupan.
Pelukan yang Tidak Pernah Diterima
Selain Ipul, ada satu tokoh lain yang membuat saya menahan napas, yaitu Bu Murni.
Bu Murni adalah seorang ibu yang merindukan anak laki-lakinya yang telah lama pergi tanpa kabar. Hubungan mereka retak karena sang anak merasa terus dibanding-bandingkan dengan teman-temannya. Puncaknya terjadi ketika Bu Murni ikut campur dalam keputusan anaknya memilih pasangan hidup. Sejak saat itu bu Murni hidup menahan rindu yang menyakitkan kepada anaknya.
Bagian ini terasa begitu menyentuh. Saya melihat seolah-olah ada hubungan timbal balik antara Bu Murni dan Ale. Bu Murni meminta maaf kepada Ale seakan-akan Ale adalah anaknya sendiri.
Di sisi lain, Ale menerima pelukan dan permohonan maaf yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari ibunya sendiri, seorang ibu yang juga sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.
Membaca bagian ini membuat saya menyadari bahwa tidak semua luka disembuhkan oleh orang yang sama yang pernah menyebabkannya.
Tanpa kita sadari Tuhan sering sekali mengutus seseorang untuk memberikan pelukan, penerimaan, atau permohonan maaf yang selama ini kita rindukan.
Kalimat yang Membekas
"Terkadang, Tuhan membelokkan jalan hidup kita dengan amat keras sampai kita terkejut dan terluka hebat, tetapi sebenarnya Tuhan sedang menyelamatkan kita dari jalan yang salah."
Pelajaran yang Saya Peroleh
Tidak semua yang hilang adalah kerugian. Tidak semua kegagalan adalah akhir. Dan tidak semua jalan yang tertutup berarti Tuhan meninggalkan kita. Kadang justru itulah cara-Nya menjaga kita.
Saya juga belajar bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah benar-benar sia-sia. Sesuatu yang bagi kita tampak biasa dapat menjadi jawaban atas kebutuhan orang lain. Tuhan tidak selalu menyatakan penyertaan-Nya melalui mukjizat yang besar. Kadang-kadang, Dia hadir melalui sebuah percakapan, sepotong kue ulang tahun yang dibagikan dengan tulus, pelukan seorang ibu, atau beberapa halaman dari sebuah novel. Tuhan bekerja melalui hal-hal sederhana yang nyaris luput dari perhatian kita.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang mengetahui bagaimana sebuah cerita berakhir. Membaca adalah memberi ruang bagi sebuah cerita untuk berbicara kepada kehidupan kita.
Hari ini, yang berubah bukan hanya Ale, saya pun ikut berubah.
📚 Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati — Brian Khrisna
📍 Halaman 106–154
🤍 Antonetta Maryanti Lengo
📷 @a.maryanti | 📷 @rumahbacalekunik



Komentar
Posting Komentar